Logical Fallacy Mahasiswa : Dimana Tuhan Saat Aku Diperkosa?
Logical Fallacy Mahasiswa : Dimana Tuhan Saat Aku Diperkosa?
Saya sedang
menulis tulisan Parade Kata-Kata dan langsung mengesampingkannya ketika melihat
postingan salah satu alumni Ma’had yang kesal terhadap perilaku mahasiswa UIN
Mataram dan reaksi mereka terhadap kasus pelecehan seksual ini. Hematnya,
ketika anak Ma’had masuk auditorium untuk mengikuti seminar HAM mereka
diteriaki dengan kasar dan bahkan tidak diperbolehkan masuk auditorium. Hal ini
jelas membuat saya tepok jidat, sebab jika hal ini benar-benar terjadi, maka tingkat
kemampuan berpikir mahasiswa UIN Mataram jelas buruk sekali. Bahkan tidak
menutup kemungkinan bahwa mereka akan menjadi predator seksual di kemudian
hari, menggantikan si Wirawan Jamhuri.
Dampak dari
tindakan mahasiswa-mahasiswa itu sangat besar, anak Ma’had menjadi terintimidasi
dan bahkan tidak berani datang ke kampus. Oleh sebab itu tulisan ini mesti saya
buat serta sebagai sikap saya memihak kepada mahasiswa-mahasiswi yang ada di Ma’had,
terkhususnya yang merasa terintimidasi hingga saat ini.
Pertama, tindakan-tindakan
yang dilakukan mahasiswa tersebut sebenarnya tidak terlalu penting untuk
dianggap penting. Ada satu hal yang barangkali terlewat oleh para mahasiswa
itu, yaitu adalah berpikir. Pun, jika mereka berpikir, maka mereka sedang masuk
kedalam sebuah perangkap pemikiran yang menginjaknya saja sudah sanggup membuat
kita dianggap bodoh; Logical Fallacy.
Sederhananya
Logical Fallacy adalah kecacatan berpikir. Sepintar-pintarnya orang, tidak akan
dianggap orang bisa berpikir bilamana mereka masih memiliki penyakit logical
fallacy ini, dan sementara itu jumlah dari logical fallacy ini begitu banyak,
sahabat bisa menghafalkan dan memahaminya lain kali.
Alasan para anak
Ma’had terintimidasi adalah anggapan bahwa sebab pelecehan seksual terjadi di
Ma’had, maka mahasiswa-mahasiswa itu menganggap bahwa semua anak ma’had sudah
tidak lagi perawan. Nah, adik-adik, ini disebut dengan logical fallacy hasty
generalisation.
Konsepnya
sederhana, bahwasanya orang yang terkena kecacatan berpikir hasty
generalisation menganggap diri mereka sudah benar atau argumen mereka sudah
kuat dengan hanya mengambil sedikit sample maupun contoh. Misalnya saja sahabat
berdebat dengannya tentang rokok dan berkata kepada mereka “rokok bisa membuat
kamu sakit”. Maka mereka pasti akan membalas “Lah, kakek saya ngerokok selama 50
tahun masih sehat-sehat aja”. Jika perdebatan diteruskan, mereka akan
berargumen “kesehatan adalah takdir Tuhan” atau “Kematian adalah milik Tuhan”.
Benar, mereka akan bersembunyi dibalik dogma, tidak jauh berbeda dengan dosen
cabul kita yang bersembunyi dibalik tameng agama dan kata ‘khilaf’.
Hasty
generalisation ini juga sama sebab mereka berpikir dengan sistematika berikut; pelecehan
terjadi di ma’had+yang menjadi korban adalah santriwati ma’had+dilecehkan berarti
hina dan tidak perawan. Oleh sebab itu, karena pelecehan terjadi di ma’had dan
korbannya adalah santriwati ma’had, maka semua santriwati ma’had hina dan tidak
lagi perawan.
Begitulah cara
mereka berpikir, dengan mengambil sampel yang sedikit dan menganggapnya sebagai
kebenaran. Lalu bilamana adek-adek ma’had masih terintimidasi oleh mereka, maka
ketahuilah ini akan sangat lucu sebab adek-adek sedang peduli dengan sikap atau
perkataan orang yang bahkan dalam keterampilan berpikir saja belum mampu.
Sebentar, saya mau ketawa dulu; hahahaha.
Sebab mereka
masih belum bisa berpikir dengan bijak, saya mewakili mereka untuk meminta maaf
atas kecacatan berpikir maupun kecacatan sikap dan sangat memohon kepada adek-adek
ma’had untuk kembali berani ke kampus. Ada banyak alasannya memang, pertama,
orang-orang yang tidak bisa berpikir itu tidak membiayai perkuliahan adek, kedua,
bilamana adek tidak ikut ke kampus, bahkan tidak ikut menyuarakan kasus ini,
maka kekuatan mahasiswa dan persatuannya akan berkurang, dan jika kedua hal itu
tidak dimiliki mahasiswa, maka kasus pelecehan seksual akan selamanya abadi di
ranah kampus kita.
Memang sebagian
mahasiswa masih salah atensi, sebab kecacatan berpikir membuat mereka salah
atensi dan bahkan tidak bisa membedakan mana pelaku dengan korban.
Pun mereka memojokkan anak-anak ma’had yang fokus ngaji dan bahkan tidak tahu
bahwa kasus ini membuat mereka takut, malu, terintimidasi, bahkan sampai
membuat mereka tidak berani ke kampus sendiri.
Kepada
mahasiswa ma’had, tidak perlu takut dan peduli terhadap orang-orang yang
berpikir saja masih belum mampu. Kembalilah menuntut ilmu dan suarakan hak-hak
itu. Percayalah bahwa zaman disrupsi itu nyata adanya, dan kalian adalah poros
kekuatan utama untuk mengembalikan kembali kekuatan ke tangan mahasiswa.
Menutup argumen
saya, saya akan menceritakan pengalaman saya menangani kasus pelecehan seksual;
kala itu malam dengan angin yang menggerakkan daun-daun, dingin merayapi
kulit dan kursi besi Alfamart, kopi Golda di atas meja dengan tutup yang terbuka.
“Aku tidak
suci lagi, Azis” Ungkap teman saya sembari melihat jalan raya. “Kemarin pamanku
memaksa menarik handuk ketika aku baru keluar dari kamar mandi, kemudian menghimpit
tubuhku dan ingin mengambil keperawananku. Aku terus melawan dan ia terus
memaksa hingga hampir penisnya menyentuh vaginaku. Aku terus melawan dan mendorongnya
sekuat temaga agar tubuhnya tak menghimpit, dan ketika aku sedang berusaha dia berkata
‘bersyukurlah aku mau memperkosa kamu, karena tidak ada orang di dunia ini yang
mau sama perempuan jelek seperti kamu!’ Tapi aku terus melawan sebab ini
adalah harga diriku. Aku dibanting ke tembok dan aku ditinggalkan seperti ampas.
Tubuhku lemas dan aku terjatuh … Mengapa, Azis? Ada jutaan perempuan di dunia
ini, mengapa aku yang diperkosa? ”
Pertanyaannya
melesak ke dalam jantung saya dan membuat saya terdiam, saya tidak tahu mesti
menjawab apa kendati pikiran saya berkelana mencari jawaban yang paling benar
dan paling tepat. Lama menunggu dalam kebisuan hingga cecak di dinding memilih
tidur tengkurap, setidaknya ada beberapa jawaban yang terlintas dalam pikiran
saya setelah saya sortir satu persatu. Jawaban itu adalah satu, kamu
diperkosa karena hanya kamu yang mampu. Namun jawaban ini cacat, tidak
benar dan tidak tepat. Mustahil ada orang yang mampu diperkosa! Maka jawaban
kedua saya, Pemerkosaan ini terjadi sebab ia mesti terjadi, jawaban ini
barangkali benar, namun tidak tepat. Jawabannya seolah tidak memiliki empati. Ketiga,
Tuhan tahu kamu mampu, atau ini adalah takdir Tuhan. Hanya saja seketika
hati saya bergidik. Mustahil, mustahil Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang menciptakan takdir yang seperti ini, hal yang paling saya takutkan
adalah bilamana ia membalas saya; Tuhan, katamu?Lalu dimana Tuhan saat aku
diperkosa?
Bilamana dia membalas
seperti itu, wallahi saya pasti tamat.
Memang ada jawaban
alternatif saya, yang sekiranya benar dan tepat, yaitu kamu diperkosa karena
kamu lemah. Sebab kamu lemah, kamu bisa memilih untuk kuat. Hanya saja malam
itu saya memutuskan untuk diam. Sementara kendaraan semakin sepi, angin
menghampar kulit dan kursi besi. Menghampar air matanya yang mengalir, dan
menghampar kopi Golda yang semakin mendingin …
Begitulah
kita, ketika ditempa musibah, kita mempertanyakan keberadaan Tuhan dimana.
Padahal yang tidak ada itu bukanlah Tuhan, pemerkosaan terjadi karena hilangnya
akal dan kemanusiaan. Tuhan memberikan nabi Muhammad Saw. sebagai contoh dan
Al-Qur’an sebagai panduan, namun barangkali kitab suci itu masih kita biarkan
berdebu.
Sebab kita
lemah, maka kita mesti bersatu, menjadi kuat, kembali melawan dan menuntut
hak-hak kita. Kita semua memiliki hak pendidikan dan rasa aman di kampus, dan
oleh sebab itulah maka kita mesti turun ke jalan dan merobohkan setan-setan
yang berdiri mengangkang.
Oleh sebab itu,
untuk adek-adek ma’had, kembalilah dan melawan. Lalu jika kamu yang pernah
diperkosa membaca tulisan ini lalu merasa sedih, insecure, dan menganggap diri
kamu rusak dan tidak pantas untuk siapapun. Biarkan aku mengutip novel Sebuah
Tempat Dimana Kita Tidak Perlu Berpura-Pura;
“Percayalah
Marchia. Aku suka membaca buku. Aku pernah membaca Injil dan membaca buku-buku
sejarah. Aku juga berkali-kali membaca Al-Qur’an dan tidak pernah aku temukan
satu fakta sejarah pun, atau pun satu ayat dari Al-Qur’an yang mengatakan bahwa
pernah ada mahkota yang diletakkan di selangkangan. Ia mesti berada di
kepalamu, bahkan di dalam lubuk hati dan jiwamu, di tempat yang semestinya”
Sebab
selangkangan bukan mahkota, maka kamu masih berharga, dan aku percaya itu.
Tulisan ini
ditulis berdasarkan cinta; terima kasih sudah membaca. Selamat menunaikan
ibadah disrupsi.
Catatan: Tidak perlu mencari novel Sebuah Tempat Dimana Kita Tidak Perlu Berpura-Pura sebab ia belum diterbitkan. Penulisnya juga adalah saya, hehe. Catatan lain, tulisan ini belum di edit, sudah jam 02:38 dan saya belum tidur. Akan saya edit lain kali. Sekali lagi, TERIMA KASIH SUDAH MELAWAN!

😔
BalasHapusTAKDIR TUHAN ITU KAK KALO KAKK DI PERKOSA
BalasHapusTentu itu takdir Tuhan. Namun pertanyaan yang diserukan disini; “Mengapa Tuhan menjadikan hal tersebut takdir?”, “Apakah pola pikir masih mampu berkorelasi dengan ketentuan Tuhan ketika dia dijerumuskan kepada hal yang paling hina?”. Iya, itu yang tengah dibahas disini. Jikalau anda menyempatkan diri membaca isi artikel.
HapusSebenarnya ada banyak jawaban dari setiap kisah, hanya saja jawaban-jawaban tersebut sangat sulit diterima manusia dalam menjalani hidupnya dikarenakan pola pikir yang belum matang dan terkadang sedikit tergesa-gesa...
BalasHapusYang saya tangkap, berarti kejadian yg menimpa perempuan tsb, secara tidak langsung adalah wasilah ilahi yg memang harus terjadi sebagai refleksi langsung dari masyarakat amoralis itu sendiri; Yang menjadikan nilai-nilai keluhuran Tuhan tdk berarti jikalau diartikan dr sisi humanisme. Maka semuanya bila dilirik dari satu persepsi(dari sang perempuan); Ia berarti diberikan keleluasaan utk mengartikan tragedinya sendiri—entah itu sbg hukuman atau pelajaran.
BalasHapus