Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Harapan Itu Bernama Alja

 

Harapan Itu Bernama Alja

    Saya tidak tahu doa apa yang telah dipanjatkan orang-orang sehingga bisa mendapatkan Presma sehebat Alja. Abed Al-Jabiri Adnan yang lebih dikenal sebagai Alja dengan Ari Trisna Winata sebagai wakil disertai para kabinet Katalisnya seolah menjadi harapan baru untuk UIN Mataram dari banyaknya masalah-masalah yang membuat keruh belakangan ini. Alja dan Winata, bagi saya (dan mungkin kita?), adalah manifestasi Katalis itu sendiri; ia menyucikan tanpa secuilpun terkotori.

    “Katalis adalah materi yang bilamana berada di tempat yang keruh, ia menyucikan, namun ia tidak ikut keruh seperti lingkungannya. Katalis adalah perubah!” Ungkapnya ketika saya sempat bertemu dengan beliau bersama wakilnya di kedai Koviin.

    Melihat bagaimana dirinya bersikap, berpikir, berbicara, saya percaya bahwa kali ini UIN Mataram tidak salah dalam memilih Presma. Bahkan, Alja bukan hanya sekedar presma; ia adalah wujud harapan-harapan yang barangkali hanya berani dilantunkan anak UIN di dalam hatinya karena merasa bahwa doa itu mustahil diijabah. Kendati demikian, barangkali juga doa-doa itu telah terlalu lama dan banyak sekali menggerusuk langit, makanya di kun fayakun kan saja oleh Tuhan, dan muncullah Alja.

    Berbicara tentang gerakan, salah satu gerakan fenomenal yang paling saya sukai adalah bagaimana Alja menyoroti banyaknya dosen yang tiba-tiba menjadi guru besar. Hal tersebut adalah gejala yang unik dan bahkan memberikan persespi adanya kecendrungan politisisasi gelar, banyaknya guru besar yang diangkat secara tiba-tiba bisa saja menjadi indikasi bahwa gelar guru besar yang mencantol di dosen selama ini hanyalah bansos semata, bukan benar-benar dikarenakan kapabilitas dosennya.

    Menyoroti hal ini, Alja muncul dan melakukan kritik serta memberikan tantangan kepada guru-guru besar jadi-jadian untuk berani adu gagasan di atas rumput. Benar, Alja telah memberikan jalur meritokrasi dan membuat mahasiswa bisa duduk setara dengan para guru besar di UIN Mataram. Jika mau dipermudah; Alja ingin mahasiswa mengetes keilmuan para guru besar itu. Sehingga bilamana terdapat guru besar yang tidak bisa menjawab, adalah ide yang bagus untuk melipat gelarnya dan sebaiknya nyangkul saja.

    Gerakan ini menurut saya adalah gerakan yang sangat mendobrak sebab hal tersebut akan menyelesaikan problematika disparitas keilmuan di UIN Mataram. Dosen-dosen pasti tahu bahwasanya kapabilitas mahasiswa kita masih ingusan, dan oleh sebab itulah para dosen terlebih guru besar harus berani duduk di atas rumput bersama mahasiswa sebagai simbol keterbukaan ilmu pengetahuan; bahwasanya ilmu mesti inklusif dan terbuka untuk semua orang dan kalangan, bahwa guru mestilah menjadi cahaya itu sendiri. Lagipula,  apa sih artinya guru besar bilamana ilmunya hanya dikongkok sendiri?

     Hanya saja hingga saat ini belum ada gerakan selain dari organisasi eksternal yang membawa dosen ke atas rumput. Belum ada gerakan pertarungan intelektual yang disaksiksan mahasiswa sehingga para guru besar hanya sebatas nama, tetapi belum bisa secara nyata menjadi panutan untuk mahasiswa.

    Ketakutan saya, jika tindakan Alja ini tidak diiyakan maka gelar-gelar hanya akan menjadi dogma dan alat untuk pembuat patuh sebagaimana dikatakan Ivan Illich, dan bukan sebagai sarana pembebasan akan kebodohan. Bilamana nanti tetap dibiarkan, orang yang mengkritisi guru besar bisa saja dianggap pembangkang, dan sama seperti zaman kegelapan, pengkritiknya bisa saja dibakar hidup-hidup dan dipersekusi.

    Hanya saja, nampak guru besar kita lebih suka merasa pintar sendiri namun enggan berbagi, atau barangkali juga adalah bentuk pembenaran bahwa gelar guru besar di UIN Mataram hanya bentuk ‘bagi-bagi gelar’ yang tidak jauh berbeda sebagaimana bansos dari negara. Barangkali juga, proses guru besar hanya bisa didapatkan oleh mereka yang ‘patuh’ kepada atasannya.

    Gerakan guru besar di atas rumput yang digagas oleh Alja dan wakilnya bagi saya pribadi adalah sebuah pijakan katalis untuk membuat mahasiswa UIN Mataram terbebas dari kebodohannya. Besar keinginan hati untuk mewujudkannya, dan kesadaran ini mesti menjadi kesadaran kita bersama.

    Prestasi Alja, wakil, dan kabinetnya terlalu banyak untuk disebutkan, tetapi beberapa yang membuat kita tetap percaya adalah seperti  tetap berani melakukan demo tentang pelecehan seksual WJ kendati mendapati banyak tekanan dan intervensi. Melempar koin sebagai simbol bahwa kepolisian hanya bergerak jika ada ‘uang’. Berdiri untuk masyarakat pesisir dan masyarakat yang tertindas, sosialisasi to the point tentang kasus pelecehan seksual, dan banyak lagi yang lainnya sehingga saya percaya bahwa malaikat Raqib kebingungan catat yang mana. Harapan saya tentunya agar kabinetnya terus memberikan dampak yang baik kepada kita semua.

    Mengakhiri catatan ini, saya akan menulis salah satu perbincangan saya dengan Alja di malam itu;

“Bagaimana menurut side?”

    “Kalau menurut saya, untuk merubah UIN Mataram adalah dengan mengganti buku PBAK UIN. Buku itu tidak berguna karena terlalu banyak pasal yang tidak akan mungkin dihafal mahasiswa. Seandainya kita bisa membuat buku PBAK kita sendiri, yang memang dibuat oleh mahasiswa, Itu akan menjadi buku doktrinisasi sehingga kita bisa menanamkan mindset kepada mahasiswa. Hanya saja ini sangat sulit, karena kita sedang melawan ruang makan oknum-oknum kampus kita. Anggap saja buku PBAK UIN itu harganya 30.000 Rp, dan mahasiswa setiap tahun 3000-an yang mendaftar, entah berapa ratus juta yang akan di dapatkan. Tetapi seandainya kita punya buku pedoman itu, masa depan UIN Mataram pasti akan sangat cerah”

    Alja dan kabinetnya adalah the Original sebagaimana yang dikemukakan Adam Grants yang berani melawan status quo. Sebagaimana Outliers dan David yang disebutkan Malcolm Gladwel, dan seumpama sebutan Rhenald Kasali terhadap zaman ini; Alja adalah disrupsi itu sendiri.

    Dengan kabinet katalisnya yang akan melewati momen PBAK. Ini adalah kesempatan emas. Momen ini adalah momen doktrinisasi kampus terhadap mahasiswa baru yang masih putih-polos. Jikalau kabinet Katalis bisa mengambil peran penting disini, kita tidak hanya sedang membuat UIN Cerah, melainkan memungkinkan munculnya Alja yang baru; yang berani mengambil sikap dan bersuara disaat yang lain sibuk menghafal gerakan velocity.

     Bersama Alja kita percaya, semoga menjadi katalis selamanya.

Posting Komentar untuk "Harapan Itu Bernama Alja"