Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menuju Paradigma Kuantitatif

Menuju Paradigma Kuantitatif 

Opini PMII Menuju Paradigma Kuantitatif

Hingga saat ini PMII masih berpegang pada konsep kualitatif, konsep yang semestinya ditinggalkan karena senior-senior kita di PMII mulai mabuk cerita. Senior-senior kita, dalam acara MAPABA khususnya seringkali bukannya menyampaikan materi, melainkan menceritakan ulang kedigdayaan mereka yang hanya ada di masa lampau, yang bisa saja diubah-ubah berdasarkan keinginan senior tersebut.

Itulah mengapa, sudah saatnya PMII semakin beranjak ke paradigma kuantitatif. Ide ini pribadi adalah ide yang diberikan L.M. Nassar yang sempat menjabat sebagai ketua rayon PMII Al-Farabi. Diskusi yang kami lakukan di kedai Son-Son yang berletak di Gomong tidak kondusif, sehingga ketika ia sempat singgah di kontrakan, ia menyampaikan beberapa gagasan yang akan saya tuangkan melalui tulisan ini. Hematnya, saya memberikan judul Menuju Paradigma Kuantitatif sebab memberikan perspektif baru untuk kader-kader PMII.

Pertama, untuk memahami ide Tum Nassar lebih dalam maka perlu kita memahami bahwasanya kata ‘paradigma’, untuk hal yang paling umum bisa diartikan sebagai cara pandang. Kendati demikian, arti yang lebih luas dari sebuah paradigma adalah sebuah keyakinan yang mendasari orang dalam melaksanakan tindakan, yang berarti bahwa paradigma mempengaruhi individu dalam bersikap, berpikir, dan bertingkah laku.

Kata paradigma di PMII seringkali mengacu kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi di PMII, misalnya, paradigma Arus Balik yang digagas Muhaimin Iskandar pada tahun 1997, yang menuntut para masyarakat pergerakan kembali untuk menuntut hak-hak mereka. Selain itu, terdapat juga paradigma Kritis Transformatif yang kemudian menggantikan paradigma yang digagas Muhaimin Iskandar.

Sebagai sebuah keyakinan dan preferensi untuk bertindak, kegagalan PMII adalah kegagalannya dalam membentuk paradigma. Paradigma kita seringkali dikaitkan dengan slogan-slogan maupun tema acara yang kita pasang pada banner-banner acara. Padahal, paradigma lebih dari sekedar judul, ia merupakan komitmen yang dimiliki sebuah ketua yang kemudian diikuti oleh anggota-anggotanya. Paradigma pada akhirnya seperti sebuah keyakinan yang kita pegang kuat-kuat.

Sementara di PMII, dalam tahap rayon maupun komisariat, belum pernah gencar dalam membentuk sebuah paradigma sehingga yang menjadikan organisasi yang sedang dikelola tidak memiliki kerangka berpikir. Dalam hal ini, Tum Nassar memberikan sebuah persepsi tentang pentingnya paradigma kuantitatif.

Paradigma kuantitatif adalah sebuah paradigma yang menekankan bagaimana PMII mesti kuat dalam segi data, dan bukannya kuat dalam bualan-bualan cerita. PMII sebagai sebuah wadah bukan hanya sebagai pelaksana, melainkan juga sebagai pengevaluasi dari kegiatan-kegiatan yang sudah terlaksana, tetapi kali ini cenderung menggunakan data kuantitatif.

Pentingnya penggunaan data kuantitatif adalah sebagai sebuah acuan untuk membentuk sebuah data yang valid dan absah, sehingga tidak bisa dirubah-rubah. Hal ini, jelas sangat mampu untuk melawan senior-senior serta menghentikan kemunculan senior-senior yang hanya berlandaskan cerita. Sebab senior kita, seringkali memewahkan kepahlawanan mereka ketika mereka ber-PMII, seolah mereka adalah aktor diantara aktor, the Godfather, the Man behind the gun.

Hal inilah, yang menurut Tum Nassar, bisa diselesaikan dengan menggunakan penggunaan paradigma kuantitatif. Harapannya kedepan PMII tidak hanya berasas kepada cerita-cerita melainkan adanya bukti nyata melalui data-data yang bisa dibaca dan diraba. Kedepannya PMII bisa memberikan sumbangsih data-data yang bisa dikaji ulang, serta pertanyaan-pertanyaan yang bukan saja berfokus kepada perannya apa, tetapi berapa.

Misalnya, pada kepengurusan rayon ini diskusi buku yang telah dilakukan berapa? Yang ikut berapa orang? Apakah ada peningkatan dari acara diskusi buku sebelumnya dengan diskusi buku berikutnya? Manakah yang lebih banyak pengikut acara, pada hari Rabu atau Jum’atkah? Berapa jumlah anggota PMII dan berapa jumlah anggota yang memahami Aswaja? Berapa tulisan yang dibuat sebuah rayon dalam satu periode kepengurusan? Berapa prestasi yang di dapatkan kader dan dibantu oleh rayon dalam satu periode kepengurusan?

Penggunaan paradigma kuantitatif setidaknya menjanjikan kita sebuah inovasi dan evaluasi secara berkala, sehingga kader PMII kedepannya kritis membaca data dan angka, bukan hanya paham bagaimana membaca status di sosial media.

Kedepannya, senior-senior kita juga tidak perlu capai bercerita tentang kisah-kisah kepahlawanan serta peran mereka dalam sejarah yang bisa saja mereka rubah-rubah. Namun mereka bisa bangga akan prestasi yang telah ditoreh, tulisan yang telah ditulis, kemudian dengan bangga berkata bahwa “Semua saya dapatkan karena saya ber-PMII”

Posting Komentar untuk "Menuju Paradigma Kuantitatif"