Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bunga dan Tembok

 Bunga dan Tembok

Opini

Gerakan rayon baru yang dikumandangkan oleh Fahmi dengan nama Harun Ar-Rasyid (yang sayangnya bukan Ibnu Rusyd) menyimpulkan bahwasanya gerakan rayon baru nampaknya sudah tidak bisa dihentikan, namun kendati demikian, menimbulkan konflik baru.

Jika dilihat, belakangan Iqbal Nurmansyah juga mengeluarkan surat pernyataan ketidaksetujuan terhadap berdirinya rayon Harun Ar-Rasyid, sebuah keputusan yang menurut saya adalah terlalu panjang dan lambat karena tidak langsung dikeluarkan ketika Fahmi mendeklarasikan rayon itu.

Akibatnya sebenarnya cukup fatal, karena keterlambatan yang dikeluarkan Iqbal Nurmansyah itu bisa membuat adanya persepsi bahwasanya ketua rayon Al-Ayyubi itu sedang ditunggangi senior, dan kebijakan itu bukanlah hasil keinginan pribadi maupun pengurus Al-Ayyubi, melainkan kepentingan gerbong tertentu. Tetapi demikian, surat keputusan tersebut telah dibuat dan dikemukakan ke publik selepas rayon Harun Ar-Rasyid mengadakan beberapa kegiatan, dan hingga saat ini, terus berjalan.

Untuk melihat polemik yang sedang terjadi, saya secara sederhana melihatnya sebagai persoalan keinginan kedua belah pihak untuk menuntut ‘hak masing-masing’. Kedua belah pihak saya rasa sama-sama merasa terzalimi, dan selain itu, merasa pantas untuk dan lebih baik untuk mendapati kekuasaan dan dominasi terhadap kader-kader yang baru. Secara pragmatis, saya rasa tidak salah juga mengatakan bahwa ini adalah perang atas nama kebenaran, ketidakadilan, dan tentunya, kekuasaan atas ‘hak’ yang kita bicarakan sebelumnya.

Perandaiannya, Al-Ayyubi laksana sebuah tembok yang berdiri kokoh, tetapi barangkali ada yang sempat menjebolnya, atau mungkin temboknya telah terlalu lama digerogoti angin dan lumut, dan dari sanalah bunga muncul perlahan-lahan. Keberadaan bunga sebenarnya biasa-biasa saja, namun ditakutkan, di kemudian hari bunga tersebut akan menjalar dan membesar, serta bisa saja akar dan bunganya menutupi keseluruhan tembok. Oleh sebab itu pula, tembok merasa mesti melakukan sesuatu agar tidak disaingi.

Diantara bunga dan tembok itu pula, terjadi kebingungan yang sangat mendasar dari organisme yang baru saja muncul, sebuah pertanyaan dari orang-orang baru dan lama akan esensi dirinya sendiri. Para kader baik yang baru dan lama, pengurus atau anggota baru, sama-sama bertanya ‘aku milik siapa?’ apakah ia adalah milik tembok, atau ia adalah milik bunga. Memang bisa kita jawab bahwa bukan milik keduanya, sebab mereka milik dunia. Tetapi pada titik ini, mereka pun bertanya; PMII (dunia) ini milik siapa?

Kendati mereka hanyalah organisme mungil yang tumbuh antara bunga dan tembok, menjadi pertanyaan siapa yang mengendalikan dunia mereka; Apakah mereka milik diri mereka sendiri, atau milik gerbong penguasa tertentu? Ketiadaan jawaban inilah yang sebenarnya masih menjadi problem yang terjadi. Bahkan, bisa saja hal ini tidak terjadi antara bunga dan tembok, melainkan seluruh dunia yang ditempati organisme itu sendiri.

Mesikpun PMII di UIN Mataram sudah berdiri lama, dan setiap kedzaliman politik yang terjadi selalu tertulis ‘dinamika politik’ dalam sejarahnya, hal yang perlu kita gaungkan adalah bagaimana kejadian itu terus menerus berulang, yang mengindikasikan bahwasanya PMII tidak pernah belajar dari masa lalunya, atau pun jika kita boleh katakan; belum ada gerakan yang pasti untuk membuat PMII kembali ke tangan mereka sendiri.

Bahkan hingga saat ini, ketika perpecahan terjadi, beberapa kader mempertanyakan kepada siapa mereka bertahta. Ketidakadilan yang sempat terjadi di rayon Shalahuddin Al-Ayyubi melahirkan polemik yang besar, sebab pemekaran bunga yang lahir dari tembok membuat organisme yang semestinya di Ayyubi mau ke Harun Ar-Rasyid karena tidak terima dengan ketua rayonnya. Pun juga, Harun Ar-Rasyid yang mengklaim PBA sebab alasan geografis menyebabkan masalah baru, sebab orang-orang yang berada di tembok tidak mau memeluk bunga.

Hal ini nampak lucu, namun dampak kedepannya akan sangat-sangat-sangat-sangat-sangat besar. Mereka akan selamanya saling mengklaim, bahkan bisa saja konfliknya akan berkepanjangan hingga entah sampai kapan. Akan terjadi perang eksistensial antara organisme yang lahir antara tembok dan bunga, serta bisa saja organisme-organisme itu berevolusi menjadi seekor serigala; memakan sesama mereka.

Harapan saya kedepannya bunga dan tembok sama-sama menyadari bahwasanya mereka bukan milik mereka sendiri, hanya saja, harapan saya ini cenderung musykil terjadi. Selama PMII berdiri atas kepentingan yang membalut diri dengan kebenaran dan kemaslahatan... mustahil. 

Posting Komentar untuk "Bunga dan Tembok"