Menjadi Kopri Yang Berdikari
Menjadi Kopri Yang Berdikari
Jika berbicara
tentang keindahan diksi-diksi, saya percaya bahwa pada ranah komisariat Dhini Putri
Kharisma adalah ratunya. Tidak hanya indah dalam diksi, tetapi Dhini, setahu
saya, indah juga dalam bersikap. Salah satu pengaruhnya bisa dilihat dari
kemampuan kepemimpinannya yang berkali-kali terpilih, misalnya ketua Imkobi dua
periode, dan menjadi ketua Kopri Ibnu Sina sebelum pada akhirnya ikut serta
menjadi anggota komisariat.
Saya sempat
bertemu Dhini beberapa kali namun tidak terlalu sering komunikasi, namun pada
akhirnya kesempatan itu datang ketika dalam pembahasan komisariat kami
berkumpul di Jaya Raya. Pembahasan dan hasil gagasan yang dibuat Dhini itu saya
tulis disini, berjudul ‘Menjadi Kopri Yang Berdikari’.
Membicarakan
tentang Kopri maka kita tidak akan bisa lepas dari isu kesetaraan gender yang
dikemukakannya, sebuah aksi perlawanan atas ketidakadilan dikarenakan pada
ranah sosial, lelaki cenderung didewakan dan menjadi sumber pengambilan
keputusan. Hal ini menyebabkan perempuan tidak memiliki tempat, suara mereka ada,
namun seringkali lirih, dan sebagian lagi dibungkam.
Dalam ranah
PMII, kendati organisasi kita mengedepankan tentang kesetaraan dan percaya
bahwasanya baik laki-laki dan perempuan mesti berdiri setara, tetapi jika
melihat bagaimana peran Kopri di PMII mengisi posisi-posisi strategis atau
mendapatkan delegasi, hal itu sangat kurang bila dibandingkan dengan privelege
yang di dapatkan Kopra. Padahal, selama ini rayon me-MAPABA kan banyak anggota,
dan massa PMII didominasi oleh perempuan, bukan laki-laki.
Sayangnya,
peran-peran perempuan dalam organisasi bisa dihitung jari, bahkan peran-peran
itu juga seringkali membuat perempuan terdiskriminasi. Misalnya, dalam acara-acara
kegiatan di rayon, Kopri seringkali mendapati posisi sebagai pembuat dan
pengantar kopi, dan seringkali juga hanya menjadi tontonan senior-senior dengan
tarian-tarian mereka yang gemulai. Sementara itu, peran Kopri dalam lini-lini
yang bisa memberdayakan Kopri atau membuat Kopri memiliki tempat seringkali
diacuhkan dan bahkan kapabilitas mereka seringkali dilihat sebelah mata.
Buktinya? Ketua rayon jarang berasal dari Kopri, dan posisi-posisi strategis seperti
kaderisasi dan lainnya jarang juga berasal dari Kopri.
Kendati isu
kesetaraan gender telah lama berdiri, Kopri pada akhirnya hanya menjadi
penonton dari sebuah suprema laki-laki. Laki-laki seolah memposisikan mereka
sebagai raja sementara Kopri lebih diposisikan sebagai dayang-dayangnya. Adalah
hal yang munafik mengatakan bahwa Kopri diposisikan sebagai ratu, sebab ratu
tidak menari, dan ratu tidak menyediakan kopi.
Sebagaimana
kata Dhini “Bahwasanya kita kekurangan tokoh-tokoh di Kopri, tokoh-tokoh yang
berdampak, sementara banyak anggota Kopri dibuatkan wadah-wadah untuk
berkembang, yang ingin ‘menjadi’. Tetapi Kopra seringkali melihat keberadaan
Kopri untuk menyaingi mereka, menganggap mereka sebagai sebuah ancaman, padahal
untuk membentuk PMII, maka Kopri mesti berdikari.”
Pada akhirnya,
Kopri ada bukan untuk melawan atau juga sebagai ancaman, Kopri ada agar
perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata, bukan juga sebagai alat pemuas
nafsu manusia, bukan juga sebagai ektase senior-senior kita.

Posting Komentar untuk "Menjadi Kopri Yang Berdikari"