Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Reinternalisasi Nilai PMII

Reinternalisasi Nilai PMII

Pemikiran ini dikemukakan oleh L. Ahmad Danil selaku ketua rayon ke-16 PMII Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau adalah orang yang mengangkat saya sebagai ketua kaderisasi sehingga di puncak kala itu saya bisa melihat lebih jelas problematika yang ada di PMII baik dalam aspek politik, sosial, dan pendidikannya. Saya bertemu kepada beliau pada sebuah malam, pun tulisan ini muncul ketika saya menjamunya di atas berugak rumah, ditemani rokok dan kopi. Perlahan diskusinya menjadi panjang dan memberikan banyak gagasan-gagasan penting, namun sebagaimana tulisan yang lain, saya akan mengambil gagasan yang dianggap paling penting untuk kemajuan PMII. Berikut gagasan beliau yang saya tangkap dan tulis.

Untuk memahami gagasan tum Danil tentang reinternalisasi nilai PMII, hal yang perlu dipahami adalah nilai itu sendiri. Nilai, adalah hal yang membuat sesuatu hal berharga, ia adalah kesepakatan kita bersama. Misalnya saja uang, tugas makalah kampus, hingga skripsi adalah kertas, hanya saja ia bisa saja sangat berharga di kala-kala tertentu. Bilamana kertas skripsi yang sedang direvisi tanpa sengaja terbakar, mahasiswa semester akhir bisa kejang-kejang, dan bahkan bisa masuk rumah sakit jiwa. Namun bilamana kertas skripsi terbakar setelah mahasiswa mendapatkan gelarnya, mereka tidak lagi melihat itu sebagai hal yang bernilai, melainkan sampah. Dan kendati sama-sama kertas, namun bilamana kertas 100.000 tanpa sengaja terbakar ketika kita membakar sampah, kita bisa saja menangis dan mengumpat asu-setan.

Mereka sama-sama kertas, namun apa alasannya kertas itu berharga? Benar, ia bernilai. Hal yang perlu sama-sama kita pahami adalah konsep nilai tentunya tidak lepas dari kesadaran kolektif kita dalam memaknai sesuatu, dan sesuatu berharga jika kita, secara bersama-sama, percaya bahwa hal itu berharga. Hanya saja konsep nilai tidak hanya berasal dari kertas uang belaka, ia bisa berbentuk hal yang lebih kompleks seperti manusia, dan dalam hal ini juga, organisasi.

Konsep nilai di PMII sebenarnya ada banyak, salah satu permisalannya adalah visi misi PMII yang ingin membangun kader yang berkarakter taqwa, bermoral, dan intelek. Selain itu terdapat juga tri-tri yang jumlahnya banyak seperti kejujuran, kebenaran, keadilan, atau taqwa, intelektual, profesional, atau dzikr, fiqr, amal sholeh. Banyaknya nilai-nilai ini sebenarnya merupakan salah satu bukti bagaimana pendidikan di PMII bisa mengacu kepada aspek-aspek ini, dan kekayaan serta kepadatan dari nilai-nilai ini bisa membuat siapapun menjadi memiliki karakter seperti nabi Muhammad Saw., sayangnya, kita mesti kembali bertanya apakah nilai-nilai tersebut telah tertanam dalam pribadi kader? Atau nilai-nilai itu hanya menjadi pajangan maupun jargon ketika kita memiliki kepentingan tertentu?

Bagi Tum Danil, konsep-konsep yang ada di PMII sekarang mesti melakukan reinternalisasi ulang, bahwasanya kader-kader yang ada di PMII telah terlepas jauh dari konsep-konsep value yang ada, bahwa organisasi kita telah terlepas dari nilai-nilai yang mesti dimilikinya sebab tanpa adanya nilai tersebut, maka PMII tidak ada harganya. Sayangnya konsep-konsep nilai itu lebih cenderung sebagai konsep pajangan namun nihil ketika diimplementasikan, salah satu problem terbesarnya adalah karena para senior yang semestinya menjadi role model untuk kader melakukan hal yang sebaliknya.

Para pengurus organisasi misalnya selalu koar-koar tentang pentingnya profesionalitas dalam organisasi, namun profesionalitas seperti apa? Dalam urusan tepat waktu pun PMII masih belum mampu. Banyak acara yang ngaret berjam-jam, dan banyak juga acara yang ternyata pematerinya telah datang lebih dahulu sementara kader-kader molor berjam-jam. Selain itu, banyak juga kegiatan dan proker organisasi yang agar dilihat kerja dilakukan pada akhir-akhir kepengurusan. Lalu dimana letak nilai profesionalnya?

Selain itu, Tum Danil juga jengah dengan para senior yang tidak hentinya memburu kader-kader kopri dan memperlihatkan ketidaktaqwaan mereka di depan kader. Sesederhana pacaran antaranggota saja sebenarnya fatal dan membuktikan bahwasanya hukum di PMII masih payah dan lemah, serta belum mampu berdiri sendiri. Dan sebab nilai-nilai di PMII tidak berdiri tegak maka sama artinya bahwasanya PMII tidak ada harganya, bahwa PMII tidak bernilai. Bilamana konsep ketaqwaan para kader PMII masih saja gagal melakukannya, maka jangan salah bilamana nanti kader-kader PMII melanggar AD-ART, maka jangan salah nanti kader melakukan tindakan asusila atau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Oleh sebab itu, gagasan reinternalisasi yang digagas Tum Danil mengacu kepada sebuah konsep ubudiyah yang berasas kepada nilai spiritual. Hal yang menjadi salah satu alasan konsep ini harus dan memungkinkan untuk terlaksana sebab nilai-nilai PMII selalu mengacu kepada konsep spiritualitas terlebih dahulu, misalnya saja tri Moto PMII yang diawali Dzikr, tri Khidmat yang diawali oleh Taqwa, dan bahkan visi yang merupakan pandangan PMII akan mengarah kemana berasas kepada bunyi terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah … atau juga konsep Aswaja yang identik dengan sunnahnya.

Tak perlu muluk-muluk, tum Danil menganggap bahwasanya power tertinggi PMII berasas kepada pengurus organisasi yang ada dalam tataran rayon. Bilamana pengurus organisasi dalam tataran rayon telah mampu menjaga diri dan menguatkan konsep spiritualitas untuk dirinya sendiri, maka akan mudah juga untuk menguatkannya kepada kader. Lupakan cabang atau PB yang mesti bertaqwa terlebih dahulu, lupakan tokoh-tokoh sik paling PMII terlebih senior-senior yang selalu merasa mau dituruti, sebab hal utama yang paling dilihat kader adalah pengurus yang ada di dalam rayon. Harapannya, setiap pengurus rayon yang diawali dari ketua rayon cukup kuat untuk melakukan internalisasi nilai spiritual, dan bilamana pengurus telah bersinergi, rasa-rasanya masa depan PMII untuk mewujudkan visi misi serta nilai-nilai di PMII masihlah cerah. Namun jika tidak, maka PMII sebenarnya seperti seekor marmut yang berlari di lingkaran mainannya; ia menganggap dirinya berlari, namun tidak pernah kemana-mana.

Itulah mengapa bagi tum Danil, konsep reinternalisasi yang berbasis kepada spiritulitas adalah kunci utama untuk mengembalikan organisasi PMII kembali kepada konsep Aswaja, yang mana konsep ahlu sunnah wal jamaah yang terjadi di PMII adalah konsep Aswaja yang tidak ada sunnahnya, tapi masih ahlu berjamaah. Maka tak ayal organisasi kita sangat kuat dalam melakukan pengerusakan dan kekerasan secara berjamaah, tetapi dalam urusan kebaikan … ya sudahlah.

Posting Komentar untuk "Reinternalisasi Nilai PMII "