Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membentuk Kader Yang Tepat Waktu

Membentuk Kader Yang Tepat Waktu

Dalam urusan ketepatan waktu PMII menjadi salah satu organisasi yang paling ampas, tidak ayal kegiatannya ngaret sampai berjam-jam yang mana mengangkangi nilai profesionalitas yang ada di PMII. Sementara itu, senior kita yang selalu bilang ‘berorganisasi itu mesti profesionalitas’ tidak pernah juga tepat waktu. Hal inilah yang kemudian membuat saya menanyakan satu hal kepada M. Satria Andhika ketika saya berhadapan dengannya di kedai Sonson Gomong.

Sebelum kita terjun kepada gagasannya, saya rasa pembaca perlu mengenal tum Andika sebagai salah seorang yang paling beruntung di PMII. Ia memiliki kelihaian dalam menciptakan peluang serta keberuntungan. Misalnya saja kontestasi ketua rayon antara L. Bintang Muhammad dengan Sopiyan kala itu menjadikan konflik yang berkepanjangan, hingga pada akhirnya M. Satria Andhika diangkat sebagai penengah. Beliau juga memenangkan dengan manis kontestasi ketua Sema UIN Mataram, kemudian kontestasi Hendrian dan M. Ilham dalam memperebutkan ketua komisariat lagi-lagi menonjolkan dirinya sebagai ketua terpilih. Hanya saja beliau dikatakan sebagai pemimpin yang layak sebab memahami aturan, pandai retorika dan memiliki gerakan-gerakan yang susah ditebak. Bila saja Tum Andhika suka bermain di gorong-gorong, maka ada kemungkinan beliau menjadi presiden di kemudian hari sebagaimana presiden Jokowi.

Perjumpaan saya dengan tum Andhika membuat dirinya membeberkan teori-teori sosial kepada saya, dan banyaknya gagasan membuat saya menyempitkan dan menyederhanakan gagasan tersebut menjadi satu kesimpulan dari sebuah pertanyaan terkait possibilitas PMII dalam tepat waktu. Tulisan ini adalah hasilnya, dan saya namai Membentuk Kader Yang Tepat Waktu.

Sebenarnya bukan hal yang asing untuk melihat banyaknya organisasi di Indonesia tidak mampu dalam persoalan tepat waktu sebab sedari dulu kebudayaan kita adalah kebudayaan ngaret. Orang bisa saja membuat acara jam sekian namun pada akhirnya dimulainya jam sekian, dan perkumpulan rapat yang sebenarnya bisa efektif bilamana kita tepat waktu menjadi munafik dan ngalor ngidul, bahkan ini semakin menyebalkan sebab orang yang telat selalu sok tahu dan sok ngatur alurnya rapat sehingga menyebabkan masalah yang dibahas susah untuk diatasi.

PMII adalah organisasi kaderisasi, dan kaderisasi selalu mengacu kepada konsep karakter pribadi, yang mana karakter ini jelas menjadi hal yang dibentuk oleh pengurus-pengurus organisasi. Sayangnya karakter tepat waktu maupun profesional cenderung lepas dari pantauan senior maupun pengurus, alasannya sederhana, mereka merasa bahwa ketidaktepatan waktu PMII sudah menjadi budaya dan tradisi, sementara itu mereka masih menggaungkan konsep profesionalitas dalam organisasi. Jelas tidak ada namanya profesionalitas bilamana tepat waktu saja belum mampu, sebab ketepatan waktu bukan hanya persoalan profesionalitas melainkan juga integritas yang dimiliki kader.

Memandang hal ini, tum Dika menganggap bahwasanya konflik ketidaktepatan waktu di PMII terjadi akibat momen yang terus berulang-ulang yang mana menyebabkan hukum komformitas sehingga melahirkan kesadaran kolektif bahwasanya PMII adalah organisasi yang tidak tepat waktu. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi masalah sebab ketika sesuatu telah dipercayai sebagai sesuatu, maka ia akan menjadi ‘sesuatu’ yang dipercayai masyarakat majemuk. Kesadaran kolektif ini jugalah yang pada akhirnya menentukan suatu hal yang baik dan buruk dalam suatu masyarakat komunal, sayangnya PMII terkena apes sebab kesadaran kolektif yang dimiliki PMII saat ini adalah kesadaran kolektif bahwasanya PMII tidak tepat waktu, hal ini kemudian membuat kader-kader PMII mengikuti senior-senior mereka yang tidak tepat waktu.

Kendati demikian, kesadaran kolektif dalam suatu kaum bisa saja berubah bilamana kepercayaannya juga berubah. Membutuhkan kekuatan dan dorongan yang kuat guna mampu membentuk PMII yang tepat waktu sebab pergantian dari kesadaran kolektif yang satu dengan kesadaran kolektif yang lain juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Membutuhkan kesepakatan antara masyarakat PMII baik yang ada dalam jajaran rayon, komisariat, cabang, maupun senior-senior organisasi sebab setiap jajaran memiliki pos kekuasaan yang berdampak terhadap berubahnya suatu kebudayaan.

Untuk membentuk organisasi yang tepat waktu adalah upaya untuk bertanya dan menemukan kembali kesadaran sehingga memunculkan keinginan untuk melakukan perubahan. Kendati perubahan yang diinginkan lebih berbentuk sebuah bola salju kecil di atas gunung, namun itu jauh lebih baik sebab di masa yang akan mendatang bola tersebut akan menjadi besar dan membesar, dan upaya itu akan menghasilkan ledakan dan membentuk sebuah perubahan yang stabil.

Tum Andhika memberikan statement bahwasanya  keinginan untuk tepat waktu memiliki konsep sejarah yang sama, yaitu bahwasanya setiap masa yang sulit akan melahirkan masa yang aman, masa yang aman akan melahirkan masa yang nyaman, dan masa yang nyaman akan melahirkan masa yang sulit. PMII, saat ini sedang berada pada posisi yang sangat nyaman sebab segalanya masih dalam kondisi yang stabil. Hanya saja, sebagaimana kata tum Dika, bahwasanya masa nyaman selalu identik dengan masa kehancuran, dan barangkali PMII sedang menuju kearah sana, sebagaimaana kapal Titanic yang tidak melihat bongkahan es raksasa sehingga menenggelamkannya, barangkali ada masa dimana bahtera organisasi ini menabrak dan karam sekaram-karamnya.

Pada masa itu, barangkali kita mulai mempertanyakan ulang kesadaran kolektif kita dan mempertanyakan kembali nilai-nilai baik yang mesti digenggam oleh masyarakat PMII. Salah satunya, sudah tentu untuk mengembalikan kebudayaan asli PMII, kebudayaan tepat waktu. Saya percaya bahwa ketepatan waktu adalah salah satu cara yang paling efektif untuk melihat busuk tidaknya suatu organisasi, dan saya juga percaya bahwa nilai ini mesti dimiliki setiap kader sebab jangankan tepat waktu dalam perihal acara organisasi, perihal ibadah pun kita masih bisa ngaret.

Tepat waktu adalah kunci keberhasilan organisasi sebab konon, ketika kiamat terjadi kelak, orang-orang yang ada di PMII telat masuk surga karena tidak bisa tepat waktu. Usut punya usut, ternyata kader-kader PMII masih sibuk ngerokok dan ngopi ketika nabi Muhammad Saw. memanggil. Akhirnya pintu surga ditutup dan kader-kader PMII demo kepada Tuhan atas ketidakadila-Nya, mereka merusak pintu surga dan membakar roda mobil di hadapan para malaikat, tidak lupa membawa toa dan naik mobil carry. Namun sahabat tidak perlu khawatir, sebab ketika saya telusuri riwayat dari cerita tersebut, ia berasal dari Musailamah Al-Kadzab.

Posting Komentar untuk "Membentuk Kader Yang Tepat Waktu"