Mangkubumi dan Mangkunegara, Potret Politik di Nusa Tenggara
Mangkubumi dan Mangkunegara, Potret Politik di Nusa Tenggara
Saya kembali
bertemu Abin atau L. Bintang Muhammad yang kini merupakan salah satu tokoh di
Lombok Tengah di kantin pergerakan yang dimiliki oleh mbak Syifa. Belakangan ia
menggagas LBM Meriri dengan mengadakan balap lari di tengah bulan Ramadhan
untuk mengurangi kasus balap liar di Praya. Selain itu saya suka dengan konsep
dekonstruksi pagah Praya yang dianut beliau, namun saya akan membahasnya lain
kali.
Kilas balik
sejarah, L. Bintang Muhammad berasal dari rayon Al-Ghazali. Sempat menyalonkan diri
menjadi seorang ketua rayon kala itu dan saya langsung sepakat dan setuju.
Sayangnya saya tidak tahu nasib sial apa yang terjadi, dari dua kontestan kala
itu, yaitu L. Bintang Muhammad dan Sopiyan (Kalau tidak salah?), yang menang
adalah L. M. Satria Andhika. Ini bukan kekalahan pertama Abin sebab sebelumnya
ia juga menang ketika bersaing sebagai ketua rayon, namun entah mengapa
lagi-lagi ia dikalahkan. Barangkali senior-senior kita di PMII tidak suka dengan
hal-hal yang tidak sesuai koridor mereka. Barangkali senior kita di PMII sudah
merasa menjadi Tuhan, ia mesti disembah dan barangkali kita juga perlu
menumbalkan Kopri kepadanya.
Sebenarnya saya
cukup lama mengenal Abin, tepatnya semenjak MTS di Nurul Haramain. Abin menjadi
wakil ketua marhalah kala itu, dan saya juga percaya ia cukup powerful
untuk mengisi jabatan-jabatan di pemerintahan NTB nanti di masa depan. Jika
boleh, saya berharap ia menjadi gubernur. Jika beliau tepat dan baik, semoga
doa saya diijabah Allah. Jika tidak, semoga dirinya mendapati jalan-jalan yang
semakin membuatnya pantas untuk menjadi gubernur.
Dari Nurul Haramain,
kontestasi politik di rayon Al-Ghazali, sampai menjadi salah satu tokoh politik
yang menurut saya prestasius sebab ia masih sangatlah muda, maka perjumpaan
saya dengan Abin di kantin mbak Syifa membuat saya tidak menyia-nyiakan
kesempatan. Diskusi kami pun menjadi alot, dan tulisan ini adalah tentang
diskusi tersebut. Kendati dari banyaknya ide dan gagasan beliau, saya mengambil
konsep Mangkubumi dan Mangkunegara, dan sebab itu pula, adalah hal yang tepat
sekiranya memberikan judul Mangkubumi dan Mangkunegara, Potret Politik di Nusa
Tenggara untuk merangkum gagasannya. Berikut tulisannya;
Untuk memahami
politik di NTB maka kita tidak akan pernah bisa lepas dari bagaimana kebudayaan
yang terdapat di dalamnya. NTB memiliki daerah-daerah yang identik dengan
kebudayaan maupun bahasa yang berbeda-beda. Untuk lebih sederhananya,
barangkali kita bisa kembali ke pelajaran SKI dan memahami bagaimana-darimana
Rasulullah Saw. lahir. Masyarakat Arab terdiri dari kabilah-kabilah, mereka
memiliki pemimpin di setiap kabilah yang mana keputusan di kabilah adalah
keputusan kelompok, dan oleh sebab itu maka komunal di suatu kabilah memiliki kepercayaan
lebih terhadap pemimpin mereka. Hal inilah yang mendasari mengapa pemimpin
kabilah pada masa Arab memiliki kedudukan yang bahkan lebih tinggi dibandingkan
dengan presiden maupun raja. Hal ini juga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan
kebudayaan yang ada di NTB, khususnya Lombok, kendati mangkubumi dan mangkunegara
memiliki kedudukan yang sama kuatnya.
Secara
definisi, baik mangkubumi dan mangkunegara memiliki satu kata yang serupa,
yaitu ‘mangku’, kata ini bisa jadi awal dari kata pemangku yang berarti yang
duduk, sementara menurut bahasa Sansakerta, mangku sebenarnya adalah ‘pangku’
yang berarti pemikul beban atau yang menyangga. Istilah ini jelas merujuk
kepada para pemimpin yang dalam hal ini adalah mangkunegara yang adalah DPR,
Bupati, Gubernur, Camat, dan pemangku kebijakan negara lainnya, sementara
mangkubumi mengacu kepada tokoh-tokoh sosial seperti tokoh adat dan agama.
Dalam ruang
lingkup sosial di NTB, masyarakat memiliki pemangku-pemangku adat dan agama
yang menjadi tumpuan orang-orang, hal tersebut jelas diperlukan karena di masa
lampau kebudayaan kita yang majemuk disertai juga dengan ragamnya bahasa, yang
mana satu daerah bisa memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa yang lainnya. Selain
itu ada juga pemangku agama yang mana Lombok tidak akan pernah terlepas dari
peran tuan guru yang juga menjadi tokoh sentral dalam masyarakat sebab
kedudukannya di tengah sosial kerapkali menjadi penghubung.
Hanya saja, zaman
telah berubah dan para pemangku-pemangku adat kini juga bersaing dengan para
pemangku negara. Disinilah letak konflik seutuhnya dari politik yang sedang dan
terus terjadi di NTB. Sebab bagi Abin, letak konflik ini bukan hanya
permasalahan nama, tetapi juga adalah perbedaan ideologi serta kepercayaan
antara dua pemangku tersebut.
Baik antara
pemangku adat maupun pemangku negara belum ada yang mau mengalah dalam persoalan
otoritas. Bagi pemangku adat, mereka percaya bahwasanya para pemangku negara
mesti tunduk kepadanya. Sementara bagi pemangku negara, mereka juga percaya bahwa
para pemangku adat mesti tunduk kepada pemangku negara. Permasalahan otoritas ini
barangkali terlihat sederhana, namun hal yang terjadi adalah hal-hal yang lebih
buruk sebab keduanya sama-sama memiliki kekuasaan, dan keduanya sama-sama
memiliki masa. Terjadinya perselisihan antara keduanya sama-sama memberikan dampak
yang buruk untuk kedua pihak, dan selain itu, permasalahan lainnya adalah
bahwasanya pemangku adat dan pemangku negara memiliki dua koridor yang
sama-sama berbeda, mereka memiliki dasar keyakinan yang berbeda pula sebab
pemangku adat berpegang kepada adat istiadat serta agama, sementara pemangku
negara berpegang kepada hukum dan Undang-Undang. Konflik antar mangkunegara dan
mangkuadat inilah yang disebut Abin sebagai hal yang membuat perpolitikan di
ranah NTB menjadi runyam sebab keduanya sama-sama memiliki kekuasaan dalam tatanan sosial, misalnya saja
para tokoh agamawan memiliki masa yang banyak dari kalangan masyarakat yang
bisa saja ikut aksi bilamana tokoh agamawan mau melakukannya. Kekuatan ini pun
merupakan andil sejarah yang besar sebab NTB bisa semaju ini karena tokoh-tokoh
alim ulama seperti Maulana Syekh yang mampu mendirikan Nahdatul Wathan di NTB.
Selain itu,
pemangku adat istiadat juga memiliki pengaruh yang besar karena suku Sasak
kental akan kebudayaannya. Keberadaan banyaknya dialek menjadi salah satu bukti
ragamnya kebudayaan yang dimiliki masyarakat. Namun dilain sisi, keberadaan
mangkunegara juga tidak bisa lepas dari otoritas maupun hukum sebab ia memiliki
bekingan penguasa, selain itu mereka juga memiliki militer maupun polisi yang
bisa digerakkan untuk melakukan perlawanan jika memang diperlukan. Baik antara
mangkubumi dan mangkunegara sama-sama memiliki otoritas dan kekuatan sehingga
bagi Abin, diperlukannya jalan tengah sebagai kunci solusi dari kedua
permasalahan tersebut.
Masalahnya,
menemukan solusi dari jalur tengah bisa saja sulit dan berlarut-larut, salah
satu penyebabnya adalah adanya kepentingan dari kedua belah pihak, baik itu
kepentingan yang tercium, maupun kepentingan yang disembunyikan dalam kresek
hitam. Baik itu kepentingannya memang baik, atau kepentingan itu ada rada-rada
busuknya. Hal inilah yang masih menjadi problem dalam memajukan NTB. Pun, kita
pun semestinya maklum sebab jangankan untuk permasalahan politik se-NTB maupun
Lombok, masalah politik kampus ataupu masalah politik di internal PMII saja bisa
berlarut-larut sampai berbulan-bulan lamanya, dan bahkan jika yang terpilih
bukan keputusan senior, ada kecendrungan bahwa yang terjadi adalah vakum atau pemberhentian
sementara. Sayangnya, konsep vakum tidak ada dalam kamus mangkunegara maupun
mangkubumi, toh, siapa juga yang bisa vakumnkan kedua otoritas tersebut? Edi
Irawan yang menjabat sebagai ketua cabang? Bisa jadi.

Posting Komentar untuk "Mangkubumi dan Mangkunegara, Potret Politik di Nusa Tenggara"