Dosen Memang Mesti Belajar Memegang Penisnya Sendiri
Dosen Memang Mesti Belajar Memegang Penisnya Sendiri
Permasalahan dosen yang mencabuli mahasiswi sebenarnya bukan barang baru dalam dunia universitas, bahkan bisa saja mereka bersarang disana dan menggunakan kekuasaannya untuk memberikan ketakutan terhadap para mahasiswi. Terlebih, anggapan bahwa dosen adalah dewa semakin membuktikan feodalisme dosen memang nyata adanya, dan barangkali selama ini dosen hanya menganggap kita budak yang mesti menyembah dan menjilati ujung penis mereka, juga menjadi bahan dan alat orientasi seksual yang mereka miliki. Maka dari itu, saat ini sudah semestinya kita menjadi atheis kepada dosen-dosen itu, dan sudah saatnya untuk berani melawan dewa-dewa yang menjaga penisnya saja tak mampu.
Kebebasan dosen dalam melakukan tindakan pencabulan terhadap mahasiswi bukan tanpa sebab, melainkan diakibatkan banyak faktor-faktor yang mendukung tindakan keji tersebut. Salah satunya adalah terkadang baik antara mahasiswa dan mahasiswi tidak bisa membedakan apakah hal yang dilakukan dosen tersebut benar-benar cabul atau tidak sebab terjadinya bias kognitif antara mahasiswa dan dosennya. Di dalam kelas yang penuh ilmu pengetahuan, baik mahasiswa maupun mahasiswi sedang berada dalam mode acceptance, mereka sedang dalam proses menerima ilmu maupun informasi, dan tidak sedang dalam mode denial atau melakukan penyangkalan terhadap ilmu tersebut.
Naasnya, proses ini terjadi dimanapun, tidak hanya di dunia pendidikan saja melainkan dunia kesehatan, perkantoran, dan bahkan seringkali ada di tempat yang paling aman di dunia ini; rumah sendiri. Kepada korbannya pun kita tidak bisa mengatakan mereka bodoh atau lugu, sebab seandainya kita sakit sekalipun, kita tidak pernah menanyakan kepada dokter mengapa kita diperiksa seperti itu. Pun kepada dosen, kita tidak berani bertanya mengapa metode maupun model pembelajarannya seperti itu.
Hal paling muluk untuk menjelaskan kasus ini adalah dunia pacaran, sebab ketika dalam dunia pacaran, orang akan bingung apakah dua orang yang membuka pakaian di dalam kosan, lalu melakukan persetubuhan dinamakan tindakan apa. Apakah itu tindakan pemerkosaan sebab salah satu diantaranya membujuk mesra? Apakah itu tindakan suka-sama-suka sebab keduanya sama-sama mau? Atau itu tindakan lumrah sebab merupakan bukti cinta? Lalu jika dosen menggunakan candaan-candaan seksual di dalam kelas, apakah itu bagian dari pendidikan? Atau candaan, atau juga merupakan bentuk pencabulan? Dalam hal ini, kita belum memiliki aturan yang pasti.
Alasan lain mengapa pelecehan dan kekerasan seksual sulit diberantas adalah sebab kita sedang melawan naluri manusia sebagai hewan yang berpikir, kita sedang melawan sisi hewan dalam diri mereka, dan sisi hewan ini juga ada pada dosen yang sedang duduk di kursi-kursi kampus, hingga bisa saja sifat asli itu keluar dan menerkam siapa saja ketika mahasiswa maupun mahasiswi tersebut sedang lengah. Terlebih, sebab alasan relasi kuasa, maka dosen-dosen itu memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan mahasiswa sehingga bisa melakukan hal yang semena-mena.
Maka dari itu, persoalan penis dosen-dosen kita yang cabul hanya bisa diselesaikan bilamana mahasiswa mampu membagi kekuatan yang dimiliki dosen agar mereka tidak bertindak semena-mena. Kesadaran dan keberanian jelas merupakan kunci utama. Hanya saja dalam hal ini sekiranya perlu kita berkiblat kepada Sigmeund Freud dengan konsep Id, Ego, dan Superego-nya untuk menentukan kebijakan yang tepat untuk mitigasi hal yang serupa.
Dalam kasus pelecehan seksual ini, mari kita permisalkan Id sebagai keinginan dosen untuk melecehkan mahasiswi, sementara ego adalah hal-hal yang membuat dosen tersebut tidak berani melakukan pelecehan terhadap mahasiswi, sementara Superego adalah kompetensi yang semestinya dimiliki dosen. Dari ketiga hal tersebut, mahasiswa akan sangat kesulitan membentuk Superego sebab ia adalah karakter manusia, namun mahasiswa masih sangat mampu membentuk Ego, sebuah realitas yang akan membuat dosen cabul berpikir ulang untuk menjaga penisnya tidak keluyuran kemana-mana.
Mahasiswa dan penentu kebijakan kampus mesti memiliki ide, kebijakan, maupun tindakan-tindakan yang bisa membangun Ego lebih besar dibandingkan Id, dan setidaknya, ada beberapa cara untuk melakukannya.
1. Mahasiswa Mesti Demo Sebagaimana Sok Hok Gie
Kesalahan terbesar mahasiswa adalah melakukan demo yang tidak terarah. Setiap tahun kita selalu bersuara tentang PECAT DOSEN CABUL! BUANG DOSEN YANG TIDAK KOMPETITIF! Pertanyaannya, siapa dosen cabul? Siapa dosen yang tidak kompetitif? Apakah semua dosen cabul? Apakah semua dosen tidak kompetitif?
Saya menyarankan hal yang berbeda, bahwa kedepannya protes dan poin mahasiswa harus mengacu kepada poin maupun orang yang jelas. Mahasiswa mesti berani bersuara seperti PECAT DOSEN CABUL BERNAMA WIRAWAN JAMHURI! Itu sebenarnya jauh lebih baik sehingga kita sebagai mahasiswa tahu apakah dosen itu sudah dipecat atau tidak.
Hal tersebut juga jauh lebih transparan sebab bilamana ia ditemukan masih berkeliaran, maka mahasiswa mesti melakukan perlawanan, dan bilamana mahasiswa tidak melakukan perlawanan, maka akan ada keraguan terhadap para mahasiswa sebagai pemangku jabatan di kampus.
Artinya? Ego mahasiswa aktif, dan Ego dosen aktif. Jika mahasiswa tidak lagi bersuara, pemangku jabatan kampus kehilangan kepercayaan mahasiswa. Jika mahasiswa bersuara, maka dosen cabul akan menyala Ego-nya.
2. Indikator Pencabulan Mesti Diperkenalkan Kepada Mahasiswa
Kelemahan terbesar kita adalah; Kita bahkan tidak tahu apakah suatu hal bisa dikatakan cabul atau tidak? Apakah salam dengan dosen termasuk pencabulan karena mereka sedang berpegangan tangan? Jika bukan, lalu bagaimana jika dosen memegang tangan mahasiswi di suatu ruangan? Jika memang itu pencabulan, apa yang membedakan yang satu pencabulan dan yang satunya tidak, bilamana keduanya pegangan tangan?
Lalu, apakah memberikan candaan yang berbau mesum juga merupakan bentuk pencabulan atau candaan? Jika iya dan bukan, bagaimana untuk mengetahui itu boleh dan tidak dalam proses belajar mengajar?
Jika dosen mengajak mahasiswi makan-makan di luar kampus, apakah itu juga termasuk pencabulan-pelecehan? Atau bukan?
Bingung, kan? Oleh sebab itu, saya menyarankan bahwasanya indikator pelecehan seksual maupun pencabulan di ranah kampus mesti diperjelas indikatornya. Jika memang sudah jelas, mesti ada acara yang memperkenalkan ulang indikator ini, sebab hal penting ini juga luput dari buku PBAK dan sosialisasi UIN Care.
3. Memperbaharui Buku PBAK
Jujur saja buku PBAK kita ampas! Ia terlalu dipenuhi dasar-dasar hukum dan aturan sementara mahasiswa tidak butuh itu, mereka butuh dipahamkan! Ajang PBAK mesti menjadi salah satu cara memahamkan kebudayaan akademik kita serta sosial-kultur-nya.
Buku PBAK kita terlalu rumit sementara itu satu-satunya buku yang bisa memahamkan mahasiswa baru. Jika kamu tidak sepakat dengan pendapat saya, silahkan tanya berapa mahasiswa yang membaca buku PBAK sampai akhir? Berapa yang khatam? Berapa yang paham?
Namun ini sulit dilakukan karena saya percaya pihak kampus tidak mau, anggap saja buku PBAK seharga 30.000Rp/satunya. Sementara mahasiswa UIN setiap tahun anggaplah 3.000 orang yang daftar. 30x30.000? Berapa keuntungannya?
Benar, ini akan sulit karena mahasiswa akan melawan ladang cuan kampus. Seandainya mahasiswa bisa mengambil alih buku PBAK dan membuat yang sebenar-benarnya buku PBAK yang membahas pelecehan seksual, Hak mahasiswa, maka sudah pasti hal tersebut akan mampu menyadarkan mahasiswa baru sehingga mereka berani melawan.
4. Kamera di ruangan strategis kampus
Kebijakan ini memang bisa memprbesar Ego, sayangnya, biayanya terlalu besar. Saya pun yakin kampus tidak mau. Oleh sebab itu jauh lebih baik untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa sebab kesadaran adalah kamera terbaik, ia bisa melaporkan. Sementara kamera bisa disabotase, mahasiswa, jika ia memiliki keberanian, mustahil.
Selain itu, kesadaran dosen juga mesti dibina, saya lebih percaya bahwa sosialisasi pelecehan seksual sebaiknya diberikan kepada dosen-dosen kita, sebab mereka pelakunya.
Melawan dosen-dosen di kampus memang berat, bahkan mereka cenderung akan disembunyikam oleh pihak kampus atas nama ‘merusak nama baik kampus’ atau ‘reputasi UNGGUL bisa dicabut’. Namun sampai kapan? Barangkali kita lupa bahwa dalam buku Sirah Nabawiyah, ketika seorang perempuan bercadar dipermainkan oleh orang Yahudi dari suku Qainuqa’, Rasulullah Saw. sampai melakukan perang terhadap bani Qainuqa’.
Saat ini, ada mahasiswi yang diperkosa, yang dipegangi paha dan dadanya, yang barangkali dosen itu juga meminta agar penisnya disedot juga. Apakah kita akan diam dan tidak bersuara?
Pun jika kamu memilih diam, ingatlah bahwa kamu tidak hanya hidup hari ini, kamu akan meninggalkan kampus dengan kebijakan maupun orang-orangnya yang busuk. Namun ketika suatu saat nanti, bilamana keluarga atau anakmu kuliah di kampus ini, kamu pun hanya akan terdiam ketika anakmu curhat bagaimana ia menjilati penis-penis dosennya, bagaimana ia diremas dadanya atau di bagaimana anakmu terpaksa menangis dalam diam.
Namun kamu pun pada akhirnya bersuara, namun sudah terlambat. Sebagaimana kamu yang dulu diam dan tidak peduli, kini mahasiswa pun tidak peduli.
Bersuaralah! Kita sedang menuju zaman disrupsi!

Posting Komentar untuk "Dosen Memang Mesti Belajar Memegang Penisnya Sendiri"